Pagi itu aku memanggil tukang untuk membetulkan genting yang bocor, Mang Holil adalah tukang langganan keluarga kami untuk keperluan perbaikan rumah.
Cuaca hari ini yang tidak bersahabat, mendung yang menggelayut dan angin menandakan hari ini akan turun hujan lagi. Betul saja tak lama hujan turun lagi, sehingga mang Holil harus menghentikan kerjanya, dan sambil menunggu hujan reda, ia menikmati kopi dan pisang rebus yang tersedia. Dari teras melalui kaca jendela ia ikut menikmati siaran tv yang menyiarkan kasus suap dan korupsi.
Tiba – tiba ia berkata : “Bu, gimana ya rasanya punya uang milyaran ? Mang sudah bersyukur ada kerjaan cuma cukup buat sehari, dari pada punya uang milyaran tapi di kejar – kejar KPK masuk penjara waduh, belum lagi digosipin di tv. Mending dapat kecil, resikonya kecil, dapat banyak tanggung jawab dan resikonya juga gede ya Bu“.
“Iya Mang, mudah – mudahan walaupun kecil tapi usaha kerja sendiri, tapi insya Allah berkah Mang, buktinya Mang tetap saja bisa menyekolah kelima anak Mang dengan baik“.
“Iya juga Bu, Alhamdulillah, anak –anak juga sekolahnya maju, padahal yang korupsi itu kan orang yang berpendidikkan dan orang pintar ya, mereka dapat kesempatan dapat pendidikkan yang baik dan jabatan yang baik, kok nggak bersyukur ya dari pada Mang yang harus kerja keras?“.
“Alhamdulillah Mang, kalau kita pandai bersyukur, hidup ini tidak jadi beban di akhirat“.
“Amin Bu“, Kami tertawa bersama, ya aku bersyukur sudah mengenal Mang Holil sejak 22 tahun yang lalu sejak ia masih bujangan hingga beranak lima sebagai tukang batu untuk memperbaiki rumah yang setia dan jujur.
-Tantry
Tidak ada komentar:
Posting Komentar