Kamis, 09 Juni 2011

Mang Holil Yang Bersyukur

Pagi itu aku memanggil tukang untuk membetulkan genting yang bocor, Mang Holil adalah tukang langganan keluarga kami untuk keperluan perbaikan rumah.
Cuaca hari ini yang tidak bersahabat, mendung yang menggelayut dan angin menandakan hari ini akan turun hujan lagi. Betul saja tak lama hujan turun lagi, sehingga mang Holil harus menghentikan kerjanya, dan sambil menunggu hujan reda, ia menikmati kopi dan pisang rebus yang tersedia. Dari teras melalui kaca jendela ia ikut menikmati siaran tv yang menyiarkan kasus suap dan korupsi.
Tiba – tiba ia berkata : “Bu, gimana ya rasanya punya uang milyaran  ? Mang sudah bersyukur ada kerjaan cuma cukup buat sehari, dari pada punya uang milyaran tapi di kejar – kejar KPK masuk penjara waduh, belum lagi digosipin di tv. Mending dapat kecil, resikonya kecil, dapat banyak tanggung jawab dan resikonya juga gede ya Bu“.
“Iya Mang, mudah – mudahan walaupun kecil tapi usaha kerja sendiri, tapi insya Allah berkah Mang, buktinya Mang tetap saja bisa menyekolah kelima anak Mang dengan baik“.
“Iya juga Bu, Alhamdulillah, anak –anak juga sekolahnya maju, padahal yang korupsi itu kan orang yang berpendidikkan dan orang pintar ya, mereka dapat kesempatan dapat pendidikkan yang baik dan jabatan yang baik, kok nggak bersyukur ya dari pada Mang yang harus kerja keras?“.  
“Alhamdulillah Mang, kalau kita pandai bersyukur, hidup ini tidak jadi beban di akhirat“.
 “Amin Bu“, Kami tertawa bersama, ya aku bersyukur sudah mengenal Mang Holil sejak 22 tahun yang lalu sejak ia masih bujangan hingga beranak lima sebagai tukang batu untuk memperbaiki rumah yang setia dan jujur.
-Tantry

Suatu Hari Naik Taxi Di Bandung

Pagi ini aku duduk manis di Taxi menikmati jalan Pasteur yang mulai macet oleh kendaraan sepeda motor yang simpang siur saling mendahului tanpa merasa bersalah dan tenggang rasa sudah membuat kesulitan bagi orang lain.
Kadang saling bersilangan, tanpa tengok kanan kiri, dengan tak mengurangi kecepatan, menderu menyalib diantara mobil – mobil yang juga berkejaran seakan takut kehabisan peluang rezeki di pagi yang masih sejuk berkabut asap knalpot.
Di kanan kiri tampak berkibaran rapat bendera partai politik yang konon sedang mengadakan musda di salah satu hotel yang bertebaran di jalan Pasteur, tiba – tiba sebuah bendera yang mungkin tidak terikat kuat jatuh ke jalan menimpa seorang pengendara motor didepan kami, serentak bunyi rem berdecitan cukup mengagetkan  dan badanku pun terdorong  kedepan.
Pengemudi taxi yang nampak kaget pun, geleng – geleng kepala seraya berkata : ”Maaf bu, nggak sengaja, tiang nya jatuh tiba – tiba. Waah kerja kok sembarangan, bikin orang celaka saja “.
“ Ngga apa – apa Pak, untung ya ngga nabrak sepeda motor yang jatuh “.
“Bu, buat kami pengemudi sih ngga perlu bendera warna – warni, yang penting bendera dua warna Merah  - Putih saja sudah cukup, yang penting ada kerjaan dan mudah cari nafkah untuk anak istri dan harga – harga tidak mahal. Pusing Bu, untuk bayar sekolah dan makan sehari – hari saja berebutan, mesti ngirit pisan“.
“ Bosan Bu dengar pidato yang cuma omong dan janji doang, nyatanya sudah dapat jabatan sih lupa sama kita – kita, bongkar sih pinter, bangun nya kagak bisa, kami sih buta politik, apa reformasi dulu itu tanpa konsep ya bu ? “ sambung nya.
“ Kalau dalam sejarah dulu ada laskar Pajang, jaman sekarang ada yang beken Laskar Pelangi, Kalau kami sih laskar jalanan, apa ada yang mau dengar kesulitan kita Bu. Apa ngga bingung Bu, gaji kotor satu setengah juta, anak tiga, untuk biaya masuk sekolah juga sama satu setengah juta, lah makan apa? Kadang kerja ngga semangat Bu.“
Aku terpana mendengar keluhnya, suatu pemikiran yang sangat sederhana dan kesah yang spontan dan jujur bagi mewakili sebagian besar masyarakat Indonesia yang sudah jenuh dengan eforia yang tak kunjung selesai.
“ Pak, tidak semua orang punya dan berkesempatan naik mobil, gimana kalau pemikirannya diubah, anggap saja bapak yang punya taxi ini, hobby mengemudi dan mendapatkan uang dari jalan – jalan mengemudi taxi, biar agar ringan dikit bebannya, kalau kerja pakai hati bapak lebih happy, merawat mobil agar harum dan banyak langganannya pak,” kataku bercanda untuk mengurai hatinya yang suntuk.
Tak terduga ia tertawa ngakak : “ Betul juga ya Bu, masih untung punya kerjaan, bisa naik mobil kemana – mana gratis dan dapat duit, ah si ibu pintar menghibur.” Aku ikut tertawa, sambil mengingatkan untuk menepi karena sudah sampai.
Ketika membayar ongkos taxi, ia ber ulang – ulang mengucapkan terima kasih. Aku merasa lega bisa menghiburnya sedikit, walau pun tergiang di telingaku siapa yang akan mendengarkan keluhan lascar jalanan?.
-Tantry